You need to enable javaScript to run this app.

Profil

Profil dan Sejarah Madrasah Qudsiyyah

A. Sejarah Madrasah Qudsiyyah

Madrasah Qudsiyyah Kudus merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di wilayah Kudus yang lahir dari semangat perjuangan ulama dalam menjaga tradisi keilmuan Islam di tengah perubahan zaman. Keberadaannya menjadi cerminan perkembangan pendidikan Islam di tanah Jawa sejak awal abad ke-20, sekaligus bukti nyata peran ulama dalam membangun peradaban melalui jalur pendidikan.

Pada awal berdirinya, Madrasah Qudsiyyah hanya menyelenggarakan jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama, yakni Madrasah Ibtidaiyyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyyah (MTs). Seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan Islam, pada tahun 1973 didirikan jenjang Madrasah Aliyah (MA) sebagai kelanjutan pendidikan bagi para alumni. Hingga kini, Madrasah Qudsiyyah terus berkembang dan menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di Kabupaten Kudus.

Perjalanan panjang Madrasah Qudsiyyah dapat dibagi menjadi tiga fase penting, yaitu masa formulasi, masa kemunduran, dan masa kebangkitan.

1. Masa Formulasi (1917–1943)

Cikal bakal Madrasah Qudsiyyah telah dimulai sejak tahun 1917 M melalui kegiatan pengajian dan pembelajaran agama Islam yang berlangsung secara sederhana. Pada masa itu, proses belajar mengajar belum memiliki nama lembaga maupun tempat yang tetap. Baru pada tahun 1919 M atau bertepatan dengan tahun 1337 H, Madrasah Qudsiyyah resmi didirikan oleh Almaghfurlah K.H.R. Asnawi Kudus.

K.H.R. Asnawi dikenal sebagai ulama besar keturunan Sunan Kudus generasi ke-14 dan merupakan tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam bidang dakwah, pendidikan, serta perjuangan melawan penjajahan. Beliau tidak hanya dikenal sebagai ulama yang alim dan faqih dalam ilmu agama, tetapi juga sebagai sosok pendidik yang sangat peduli terhadap kondisi umat. Ketegasan, kedisiplinan, serta kasih sayang beliau dalam mendidik menjadi pondasi utama lahirnya tradisi pendidikan di Qudsiyyah.

Madrasah Qudsiyyah pertama kali berdiri di kompleks Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, tepatnya di depan gapura masuk Menara Kudus. Nama “Qudsiyyah” berasal dari kata Quds yang berarti suci. Nama tersebut dipilih dengan harapan agar ilmu yang diajarkan di dalam madrasah tetap terjaga kemurniannya dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

Pada masa penjajahan Belanda, Madrasah Qudsiyyah tetap berdiri teguh sebagai lembaga pendidikan Islam yang independen dan berjiwa perjuangan. K.H.R. Asnawi secara terbuka menentang kebijakan kolonial yang berupaya mengontrol pendidikan Islam melalui lembaga pemerintahan Belanda. Dalam setiap pengajarannya, beliau senantiasa menanamkan nilai perjuangan, semangat cinta tanah air, dan sikap anti penjajahan kepada para santri.

Selain aktif dalam dunia pendidikan, K.H.R. Asnawi juga terlibat dalam organisasi Serikat Islam dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh nasional seperti H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, dan Semaun. Aktivitas tersebut semakin memperkuat posisi beliau sebagai ulama sekaligus pejuang bangsa.

Kepemimpinan Madrasah Qudsiyyah pada masa awal mengalami beberapa pergantian. Hingga tahun 1929, madrasah dipimpin langsung oleh K.H.R. Asnawi bersama KH. Shafwan Duri. Selanjutnya kepemimpinan diteruskan oleh K. Tamyiz (1929–1935), K.R. Sujono (1935–1939), dan KH. Abu Amar (1939–1943).

2. Masa Kemunduran (1943–1950)

Datangnya penjajahan Jepang membawa dampak besar terhadap dunia pendidikan Islam, termasuk Madrasah Qudsiyyah. Pemerintah Dai Nippon menerapkan berbagai kebijakan yang membatasi kegiatan pendidikan agama, salah satunya larangan penggunaan tulisan Arab dalam proses pembelajaran. Seluruh materi pelajaran diwajibkan menggunakan huruf latin.

Kebijakan tersebut menimbulkan keresahan di lingkungan madrasah karena penggunaan tulisan Arab merupakan bagian penting dalam pembelajaran kitab-kitab Islam. Selain itu, pengawasan ketat dari tentara Jepang membuat aktivitas pendidikan sering terganggu dan menimbulkan rasa tidak aman.

Akibat situasi yang semakin sulit, para guru dan pengelola madrasah akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan pendidikan di Madrasah Qudsiyyah. Penutupan ini menjadi salah satu fase paling berat dalam sejarah perjalanan Qudsiyyah.

Meskipun demikian, semangat pendidikan Islam tidak sepenuhnya padam. Para guru tetap berusaha mempertahankan tradisi keilmuan melalui pengajian Al-Qur’an dan pembelajaran agama secara terbatas selepas salat Maghrib. Namun, kondisi penjajahan yang keras menyebabkan kegiatan tersebut tidak dapat berlangsung lama hingga akhirnya pendidikan di Madrasah Qudsiyyah mengalami kevakuman total.

3. Masa Kebangkitan (1950–Sekarang)

Setelah Indonesia merdeka, Madrasah Qudsiyyah perlahan mulai bangkit dari masa vakumnya. Sekitar tahun 1950, kegiatan pendidikan kembali diaktifkan dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat Kudus.

Perkembangan madrasah berlangsung sangat pesat. Pada tanggal 25 Mei 1952 didirikan jenjang pendidikan lanjutan bernama Sekolah Menengah Pertama Islam Qudsiyyah (SMPIQ). Tingginya minat masyarakat menyebabkan lembaga ini terus berkembang hingga kemudian dibentuk Pendidikan Guru Agama (PGA) Qudsiyyah. Pada tahun 1957, PGA dihapus dan SMPIQ resmi berubah menjadi Madrasah Tsanawiyyah Qudsiyyah.

Dalam perkembangannya, Madrasah Qudsiyyah juga pernah membuka Madrasah Diniyyah pada sore hari sebagai penguatan pendidikan keagamaan. Kemudian pada akhir tahun 1973, didirikan Madrasah Aliyah Qudsiyyah sebagai jenjang pendidikan menengah atas.

Transformasi dan pengembangan lembaga terus dilakukan hingga era modern. Pada tahun 2010 didirikan Ma’had Qudsiyyah sebagai pusat pengembangan pendidikan berbasis pesantren. Selanjutnya pada tahun 2017 berdiri MTs Qudsiyyah Putri dan disusul MA Qudsiyyah Putri pada tahun 2020 sebagai bentuk perluasan layanan pendidikan bagi peserta didik perempuan.

Memasuki era digital, Madrasah Qudsiyyah juga menunjukkan kemampuan adaptasinya terhadap perkembangan teknologi informasi. Sejak tahun 2007, madrasah mulai mengembangkan Program Digital Library untuk mendukung pengembangan kurikulum salaf dan memperkuat akses pembelajaran berbasis teknologi. Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga tradisi keilmuan klasik sekaligus menjawab tantangan pendidikan modern.

Hingga saat ini, Madrasah Qudsiyyah Kudus tetap istiqamah menjadi lembaga pendidikan Islam yang memadukan nilai-nilai pesantren, tradisi keilmuan ulama salaf, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan semangat menjaga warisan perjuangan para pendiri, Madrasah Qudsiyyah terus berkomitmen mencetak generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan siap berkhidmah kepada agama, masyarakat, dan bangsa.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Amin Ikwani, S.Pd

- Kepala Sekolah -

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى...

Berlangganan
Banner